Wednesday, May 22, 2013

Alat penting ghazwul fikri (waspadalah)


 

Realitas suguhan acara televisi di negeri ini nyaris semuanya melanggar syari'ah Islam. Begitu pendapat Abdurrahman Al-Mukaffi dalam bukunya Kategori Acara TV dan Media Cetak Haram di Indonesia. Celakanya, ummat yang mayoritas ini seolah tidak berdaya menghadapi sergapan ghazwul fikri
(perang pemikiran) yang dilancarkan musuh-musuh Islam lewat 'kotak ajaib' itu.

Abdurrahman membuat 10 kategori acara televisi dan media cetak yang merupakan bagian dari strategi ghazwul fikri, dan karenanya haram ditonton oleh kaum Muslim.

1. Membius pandangan mata.

Banyak disuguhkan wanita-wanita calon penghuni neraka dari kalangan artis dan pelacur. Mereka menjadikan ruang redaksi bagaikan rumah bordil yang menggelar zina mata massal.

2. Pameran aurat.

Saluran televisi berlomba-lomba menyajikan artis-artis, baik dengan pakaian biasa, ketat, pakaian renang, sampai yang telanjang. Penonton diajak untuk tidak punya rasa malu, hilang iman, mengikuti panggilan nafsu, dan menghidupkan dunia mimpi.

3. Membudayakan ikhtilat.

Sekumpulan laki-laki dan wanita yang bukan muhrim, biasa bergumul jadi satu tanpa batas. Tayangan semacam ini tak ubahnya membuka transaksi zina.

4. Membudayakan khalwat.

Kisah-kisah percintaan bertebaran di berbagai acara.

Frekuensi suguhan kisah-kisah pacaran dan kencan makin melegitimasi budaya khalwat.

5. Membudayakan tabarruj.

Banyak pelaku di layar kaca yang mempertontonkan bagian tubuhnya yang seharusnya ditutupi, untuk dinikmati para pemirsa.

6. Mengalunkan nyanyian dan musik setan.

Televisi banyak menyiarkan bait syair lagu berupa mantera zina yang diiringi alunan alat musik setan.

7. Menyemarakkan zina.

Sajian dari luar negeri maupun lokal yang banyak menyertakan adegan peluk, cium, dan ranjang membuktikan bahwa televisi adalah corong zina. Aksi zina yang menyeluruh, baik zina mata, telinga, hati, lidah, tangan, kaki, dan kemaluan.

8. Mempromosikan liwath (homoseksual).

Para artis dan selebritis yang mengidap penyakit homoseks dijadikan contoh gaya hidup modern dan high class. Kaum homo makin bebas berkeliaran dengan berlindung di bawah payung hak asasi manusia.

9. Menebarkan syirik.

Televisi banyak mengekspos praktik pedukunan, mistik, ramalan, dan sihir yang dapat menghancurkan aqidah ummat.

10. Tenggelam dalam laghwun.

Acara-acara yang tak ada manfaatnya banyak disuguhkan untuk pemirsa, misalnya gunjingan tentang kehidupan pribadi selebriti dan humor berlebihan, sehingga lupa mengerjakan hal-hal yang justru penting seperti dzikir kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala.

Untukmu yang selalu kunanti

Jika lelah yang kurasa sekarang, aku yakin kau juga merasakannya. Lelah menantimu. 
Lelah menanti janji Allah untuk segera mempertemukan kita dalam kesempatan untuk menggenapkan separoh dari agama ini.

Lelah… dan teramat lelah….!!!!

Itulah yang sekarang kurasakan. Lelah untuk tetap menjaga hati dan iman ini. 
Lelah untuk istiqomah menanti hingga janji Allah tiba.
Lelah untuk tetap tersenyum dalam menghadapi setiap pertanyaan..

“Kapan menikah…..?”

Di tengah kelelahan itu, izinkan aku sekedar melukiskan kekeluan hati yang sulit terucap dengan lisan. Dan izinkan pula aku sedikit mengutip surat cinta dari Allah, sebagai kewajiban kita untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan dan kesabaran…

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (syurga) (QS An-nur : 26)”

Huuf….!!!!

Lega rasanya, bisa sedikit menyampaikan ini. Meski jika boleh sedikit jujur, kutulis petikan firman Allah itu hanya sekedar menghibur hatiku yang teramat lelah. Menghibur hatiku yang terkadang perih melihat kebahagiaan temanku atau  bahkan yang usianya di bawahku telah mendapat izin Allah untuk melangsungkan pernikahan. Hatiku yang terkadang iri melihat temanku melahirkan anaknya dan terasa lengkap sudah dirinya diciptakan sebagai seorang perempuan. Yang telah berkesempatan untuk menjadi seorang ibu.

Lelah…!!! Dan teramat lelah….!!!!

Untuk sebuah penantian yang aku sendiri tidak tahu kapan berakhirnya. Selaksa doa yang terus terlantun seakan menjadi arang untuk mengobarkan asa. Sebuah harapan untuk segera menemui hari yang paling membahagiakan. Ya… Hari pernikahan. Hari dimana kita bisa menunpahkan segala rasa cinta yang ada dengan halal dan penuh ridha Allah.

Sekilas, hatiku tersenyum kecil saat membayangkan hal itu. Tapi, senyum itu terpaksa harus ku tepis karena kenyataan saat ini masih jauh dengan sebuah harapan yang ada. Sebuah kenyataan ternyata kau belum ada di depanku. Belum datang untukku. Meski aku tahu, kau telah dipersiapkan Allah untukku.

Aku tidak tahu kenapa sampai sekarang Allah belum mempertemukan aku denganmu. Padahal, doa dan usaha tak pernah berhenti menghiasi langkahku. Usaha untuk menyempurnakan ikhtiar dan doa untuk menggenapkan tawakal. Semuanya telah kulakukan.

Yah… tapi kembali lagi mau tidak mau aku harus berkompromi dengan semua ketetapan Allah. Meski aku telah meminta dengan sepenuh harap, Allah tidak akan pernah memberikan apa yang aku inginkan. Tapi Allah hanya memberikan apa yang aku butuhkan. Meski berulang kali hati kecilku mengatakan bahwa aku telah siap untuk menikah, Tapi, hanya Allah yang jauh lebih tau tentang kesiapan diriku daripada diriku sendiri.

Telah berulang kali datang di hatiku orang yang kusangka dia adalah dirimu. Mencoba memasuki hati dan mencoba mengambil tempat yang kuperuntukkan untukmu. Tapi, berulang kali juga mereka harus keluar dan mengaku kalah karena berbagai sebab. Dan sekarang, ternyata aku masih menunggumu. Menunggu kedatangan seseorang yang aku sendiri belum tahu siapa dirimu.

Lelah… dan teramat letih…!!!

Jika aku mengucapkan satu kata. “MENUNGGU”

Penantian yang aku sendiri  juga belum tahu kapan berakhirnya. Sedangkan di sekitarku, telah banyak pemandangan indah yang kulihat. Ibu-ibu muda yang usianya di bawah umurku telah sempurna menjadi seorang perempuan dengan melahirkan buah hati mereka yang lucu-lucu. Kembali lagi hatiku harus menjerit dalam Tanya

“Kapan tiba waktunya untukku…..?”

Menjalani hidup sebagai seorang istri, sebagai seorang ibu rumah tangga dan menjalani fitrah seorang perempuan sebagai seorang “IBU” bagi buah hatiku.

Selaksa doa dalam sujud harap tak pernah lekang di tiap sepertiga malam terakhirku. 
Mencoba mengadu pada tiap doa yang terlantun. 
Mencoba mengiba dalam tiap tangis yang terus membasahi sajadah. 
Dan Mencoba bertanya dalam heningnya istikharah.

“Dimana dia ya Allah….???? 
Seorang laki-laki yang telah kau janjikan untukku. 
Seorang laki-laki sebagai penyempurna agamaku, 
penjaga ketaatanku sekaligus penggenap langkah dakwahku….??????”

Lelah… dan teramat letih…!!!

Jika hati ini mencoba mengeja setiap rencana Allah. Tapi satu keyakinan yang akan terus membuatku tersenyum di tengah hati yang semakin lelah. Janji Allah mungkin tidak datang dengan “SEGERA”. Tapi akan selalu datang dengan “PASTI”. Seperti apa yang telah Allah janjikan dalam surat An-Nur : 26. Sekarang, aku memang tidak tahu siapa dirimu dan dimana keberadaanmu. Tapi aku yakin, kau akan dipertemukan Allah denganku saat masing-masing kita telah baik di mata Allah.

Jika aku menginginkan kau seorang yang baik dimata Allah, 
maka izinkanlah aku untuk selalu memperbaiki diriku dengan kebaikan sesuai ketentuan Allah.

Jika aku menginginkan kau memberikan cintamu hanya untukku, 
maka izinkan mulai sekarang aku menjaga hati dan cinta ini hanya untukmu.

Jika sekarang aku menginginkanmu menjaga akhlak dan pandanganmu untukku, 
maka, izinkanlah mulai sekarang aku menjaga akhlak dan pandanganku hanya untukmu.

Sehingga, ketika telah tiba waktunya bagi Allah untuk mempertemukan kita, 
indahnya cinta yang terbingkai dengan syurga pernikahan akan menjadi penggenap separoh dari agama ini.

Jika aku boleh jujur, penantian panjang ini layaknya malam yang semakin gelap dan pekat. 
Hanya cahaya iman dan sabar yang akan menjadi penerang. Tapi aku yakin, malam yang semakin gelap dan pekat itu, tidak akan berlangsung selamanya. Karena semakin waktu berangkat jauh membawa gelapnya malam, semakin dekat pula waktu menuju pagi dengan sambutan mentari yang cerah.

Ya… di saat pagi itulah Allah akan mempertemukan kita sesuai janji-Nya. Pagi yang cerah dengan sapaan mentari yang ramah. Bersama kidung cinta yang akan terus terlantun membawa nyanyian syurga yang Allah turunkan untuk kita. Gerbang pernikahan yang indah dengan hiasan bunga ridha dan restu dari Allah.

Insya Allah akhi…

Waktu itu pasti akan datang bersama izin dari Allah.

Entah kapan, aku sendiri juga belum tahu. Biarkan Allah yang merenda ini dengan indah. Antara harapan dan kenyataan, ada jarak dan waktu. Jarak itu bisa satu centimeter, bisa juga satu kilometer. Atau bahkan lebih. Waktu itu bisa satu hari atau bisa juga satu tahun. Atau bahkan lebih. Dan di dalam jarak dan waktu itulah, kita isi dengan kesabaran dan doa. Sabar bukan berarti diam. Sabar bukan berarti pasiv. Sabar bukan berarti hanya duduk menunggu. Tapi sabar adalah ekspresi usaha tanpa henti. Ayunan langkah kaki untuk terus berikhtiar meraih apa yang Allah janjikan. Jodoh memang mutlak kekuasaan Allah. Jodoh memang ada di tangan Allah. Tapi, kalau kita tidak berusaha menjemputnya, akan terus di tangan Allah. Tidak akan pernah sampai di tangan kita. Biarkan aku mencoba menjemputmu dengan memperbaiki diri. Biarkan aku menantimu dengan memperbaiki iman. Biarkan aku menunggumu dengan terus melangkahkan kaki semampuku dalam usaha dan ikhtiar.

Akhi….

Di tengah lelahnya hati ini, izinkan aku tetap menunggu dengan iman yang tak pernah surut. Meski kadang godaan rasa putus asa terus menghinggap di hati. Aku hanya perlu menyandarkan cinta dan harapan pada Allah. Karena, menyandarkan harapan pada manusia hanya akan menemui kekecewaan. Biarkan penantian yang aku sendiri belum tahu kapan berakhirnya ini menjadi ladang ibadah yang disediakan Allah untukku. Dan orang-orang yang sedang menanti sepertiku.


Terus perbaiki diri akhi….




Aku masih setia menantimu.


Kala VMJ datang menghampiri


"Jatuh cinta berjuta rasanya ...", begitu syair lagu ciptaan Titik Puspa. Konser Dewa, Atas Nama Cinta, dihadiri ribuan penggemar mereka. Album terakhir mereka pun, Cintailah Cinta pun terjual diatas 1 juta copy. Dan entah berapa banyak lagi lagu, kata, ungkapan, syair, puisi yang berbau cinta begitu mengharu biru dunia ini.

Hmm..perasaan jatuh cinta memang sukar dijelaskan dan ditebak, karena penuh dengan gejolak. Semua saran dan nasihat ditolak, bahkan nalar pun bisa terdepak oleh perasaan mabuk kepayang yang membikin rasa melayang-layang. Itulah dahsyatnya perasaan yang satu ini. Gedubrak !!!

Apakah karena itu kita tak boleh mencintai dan dicintai? Uups...tentu saja boleh, karena cinta adalah pemberian Allah SWT. Mencintai dan dicintai adalah karunia, sekaligus panggilan hidup kita. Tak pernah merasakan jatuh cinta, bukanlah manusia, karena manusia pasti merasakan cinta [QS Al Imran:14] Bahkan, cinta merupakan ruh kehidupan dan pilar untuk kelestarian ummat manusia.

Islam juga gak phobi sama yang namanya cinta kok, bahkan Islam mengakui fenomena cinta yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Namun, bukan dalam komoditas rendah dan murah lho. Artinya, tingkatan mencintai sesuatu itu ada batasnya. Jika cinta itu malah membawanya kepada perbuatan yang melanggar syariat, nah...kore wa dame da!*
Hmm...cinta itu katanya jelmaan perasaan jiwa dan gejolak hati seseorang, wuis...puitis banget! Nah, dalam Islam kalau kita merujuk QS: At Taubah 24, maka cinta dapat dibagi dalam 3 tingkatan, yaitu:
  1. Cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya
  2. Cinta kepada orangtua, istri, kerabat dan seterusnya
  3. Cinta yang mengedepankan cinta harta, keluarga dan anak istri melebihi cinta kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan Allah.
Lalu gimana dong, kalau cinta itu datang, menghampiri dan menggoda di luar pernikahan? Nah lho, puyeng deh kalo gini! Padahal cinta itu kan timbul memang dari sononya, muncul dari segi zat atau bentuknya secara manusiawi wajar untuk dicintai. Normal aja kan, jika memandang sesuatu yang indah, kita akan mengatakan bahwa itu memang indah, masa' sih dibilang jelek!

Menurut Imam Ibnu al-Jauzi, "Kecintaan, kasih sayang, dan ketertarikan terhadap sesuatu yang indah dan memiliki kecocokan tidaklah merupakan hal yang tercela serta tak perlu dibuang. Namun, cinta yang melewati batas ketertarikan dan kecintaan, maka ia akan menguasai akal dan membelokkan pemiliknya kepada hal yang tidak sesuai dengan hikmah yang sesungguhnya, hal seperti inilah yang tercela."

Waduh...gimana dong, lagi jatuh cinta nih! Problem...problem... mana masih kuliah, kerjaan belon ada, masih numpang ama orangtua, wah...nih cinta kok gak pengertian ya!
Kalem dong, jangan blingsatan begitu. Emangnya jatuh cinta masalah kamu aja, ya...gak lagi! Nabi Yusuf a.s. aja pernah jatuh cinta lho, bahkan kepada seseorang wanita yang telah menjadi istri seseorang. Eits...protes deh! Iya deh, kalau bukan cinta, paling gak, tertarik dan terpesona, boleh kan?
Buka deh surat Yusuf, romantika kisah beliau diceritakan dengan tuntas, awal, proses, konflik hingga klimaks dan ending-nya. Nah lho...Nabi aja bisa punya 'konflik' seperti itu, apalagi kamu, iya kan? Romantika cinta beliau bukan kacangan, atau pepesan kosong, namun apa yang dialami beliau bisa menjadi pelajaran buat kita bagaimana kalau cinta itu demen banget menggoda kita. Beliau sadar, dan mengerti betul bahwa itu terlarang, meski ada gejolak di hatinya [QS Yusuf: 24]
Namun... Kondisi di atas itu gak terjadi begitu aja lho, karena sebelumnya Nabi Yusuf a.s. pun telah berusaha untuk menolaknya saat wanita itu terus merayunya. Eh...nabi Yusuf pun dikejarnya, dan yang dikejar malah lari terbirit-birit, wuus...
Lantas apa dong pelajaran yang bisa kita ambil, saat cinta itu menggoda kita? Pelajarannya adalah:
  1. Setiap orang memiliki rasa tertarik dengan lawan jenisnya, perasaan ini manusiawi, fitrah sekaligus anugerah.
  2. Namun, gejolak itu harus diatur lho, kalau gak maka kita akan terperosok ke jurang kenistaan, karena diperbudak gejolak jiwanya. Lantas jadi merana deh, angan-angan melulu. Innan nafsa la ammaaratun bis-suu, sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak kepada kejahatan kecuali nafsu-nafsu yang diberi rahmat oleh Allah [QS Yusuf:53].
  3. Kalau kita jatuh cinta pada lawan jenis, dan mengharapkan terbalaskan cintanya, maka saat itu ada sebagian dari akal dan logika yang hilang. Sekian banyak pertimbangan akal sehat yang dipunyai jadi ngadat, gak jalan! Gak percaya? Coba deh, ntar kalau kamu tambah dewasa, udah nikah, mungkin mikir, "Kok, dulu begitu ya?", "Kok, dulu gak mikir ya?", dan "kok-kok" yang lain. 
  4. Dulu waktu ngejar-ngejar, wah...dimana-mana hanya terpampang wajah dia seorang, kekasih hati. Tidur gak nyenyak, makan pun terasa gak enak, bukan karena banyak nyamuk atau lauknya gak enak, dunia ini pun hanya untuk berdua, yang lain ngontrak, ck...ck...ck... Kalau gak ketemu, rasanya gimana gichuu. Dikejar setengah mati deh, pokoke mesti dapet! Tapi begitu udah dapat, lalu masuk dunia rumah tangga, gejolak itu bisa berganti dengan rutinitas dan bisa bosan. Itulah sifat manusia, karena itu bila mencintai seseorang, cintailah sewajarnya, siapa tahu ntar kamu benci padanya. Begitu juga sebaliknya, kalau benci, bencinya yang wajar aja deh, siapa tahu ntar malah jatuh cinta :)
  5. Ingat lho, gak semua yang kita inginkan itu harus terpenuhi, kalau gak mau dibilang egois. Tidak semua cita-cita itu harus terkabul, dan tidak pula semua gejolak harus dituruti. Di dunia ini ada banyak pilihan, kalau gak dapat yang satu, pilihan lain masih banyak kan? Siapa tahu malah lebih baik. Makanya buka mata lebar-lebar, masa' sih cuma ada dia aja di dunia ini, emang yang lain kemana bo!
  6. Tidak semua yang kita anggap baik itu baik, dan tidak semua yang dianggap indah itu indah. Segala sesuatu itu pasti ada cacat dan cela-nya. Saat jatuh cinta sih, wuah...indah buanget, tiada cacat dan cela. Padahal bisa aja kan, cacat dan cela itu jauh lebih banyak dari baik dan indahnya.
  7. Akhirnya, kalau kamu udah sampai pada puncak cinta, yaitu pernikahan, ingat deh kalo puncak masalah pernikahan itu bukanlah pada siapa yang akan jadi pasangan kita, tapi gimana agar kita bisa survive di dalamnya, siapapun pasangan kita.
Semoga membantu akhi wa ukhti, jangan lupakan Allah SWT kalau antum jatuh cinta ya. Jatuh cinta-lah karena Allah SWT, karena kasih sayangnya akan meluruh ke jiwa.
Wallahu a`lam bis-shawab.


------------------------------------------------
BILA AKU JATUH CINTA
Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Amiin.

Amin ya rabb alamin

Hiburan Sejati, Bagaimana Memilikinya ?


 
Syarat bagi ketenangan hati ialah keperluan asasinya diisi yaitu iman. Orang yang beriman akan mendapat kepuasan dengan hiburan yang berbekas di hati.
Hiburan yang sejati puncaknya adalah hati yang tenang. Syarat bagi ketenangan hati ialah keperluan asasinya diisi, yaitu iman. Orang beriman akan mendapat kepuasan dengan hiburan yang berbekas pada hati. Artinya, jika hati benar-benar disuburkan dengan iman, maka hati pun akan terhibur. Inilah hiburan sejati bagi orang-orang beriman:

1. Berhubungan dengan Allah dengan sholat dan mendengar lantunan azan. 

Rasulullah saw bersabda, " Wahai Bilal, tenangkan kami dengan azanmu." Hanya dengan sholat , hati orang yang bertaqwa sudah terhibur sebagaimana sabda Rasulullah saw: "Sejuk mataku di dunia dengan solat." Hati orang-orang bertaqwa terhibur dengan sholatnya karena mereka merasa seolah-olah sedang berbisik-bisik, bermesra, mengadu dan merintih dengan kekasih hatinya. Siapa yang tidak merasa terhibur kalau sudah bersama kekasih?

2. Melaksanakan perintah Allah. 

Apabila melaksanakan perintah Allah, orang-orang beriman akan terhibur kerana merasakan perintah itu datangnya dari kekasih hati. Bila yang memerintahnya adalah kekasih, apa lagi yang ingin disusah-susahkan? Kalau sudah cinta, lautan api akan diseberangi. Puncak Himalaya akan sanggup didaki. Orang yang tidak tahu menyangka mereka menderita tetapi sebenarnya mereka bahagia.

3. Bergaul dengan banyak orang.

Orang yang telah mendapat hibuan sejati, sikapnya tenang. Bila bergaul dengan manusia, mereka terhibur dan menghibur. Kasih sayang terpancar pada wajah, sikap dan tutur katanya. Bagi orang beriman, kasih sayang dalam pergaulan memberi hiburan yang sangat bernilai. Dia menyayangi dan disayangi. Sebaliknya, manusia yang tidak mendapat hiburan sejati menjadi seorang pemarah, pendendam dan emosional. Mereka tidak terhibur dan tidak dapat menghibur. Dalam pergaulan, mereka selalu menyakiti orang lain karena mereka mencoba mendapatkan 'hiburan' dengan melepaskan keresahan yang ada dalam hatinya.

4. Menerima ketentuan hidup dari Allah. 

Orang mukmin juga merasa terhibur dengan warna kehidupan yang diberikan Allah. Hatinya senantiasa bersangka baik dengan Allah. Hal itu yang membuatnya tidak pernah merasa resah. Bila diberi nikmat, mereka terhibur lalu mereka bersyukur. Diberi kesusahan mereka juga terhibur lalu mereka bersabar. Bila sakit, terasa diberi kesempatan untuk mendapat ampunan. Hanya badan yang sakit, tetapi hati tetap kuat dan sehat untuk mengingat Allah. Bila sehat, terasa diberi rahmat.

5. Melihat dan merenungi ciptaan Allah. 

Orang yang beriman juga akan terhibur dengan melihat alam ciptaan Allah. Timbul rasa tenang, gembira dan bahagia melihat pantai-pantai yang bersih, bukit yang menghijau, laut yang berombak dan sebagainya. Melihat, mendengar dan berfikir itu sudah cukup untuk merasakan keindahan Penciptanya.

Sebaliknya mereka yang tidak beriman atau lemah imannya memerlukan hiburan luar yang sangat banyak. Walaupun sudah bermacam-macam jenis hiburan yang dinikmati, tetapi hidup masih menjemukan. Mereka tidak pernah puas karena apa yang mereka nikmati hanya hiburan palsu. Jika iman sudah disuburkan di dalam hati, manusia tidak memerlukan hiburan yang banyak seperti sekarang ini. Mereka cukup terhibur dengan membaca al-quran, nasyid, lagu-lagu tanpa musik yang melalaikan, bershalawat dan ibadah-ibadah yang lain. Semua itu sudah cukup untuk memuaskan hati. Namun ini tidaklah berarti orang beriman menolak langsung hiburan-hiburan dari luar diri.

Bagi mereka, hiburan luar itu boleh saja untuk lebih menyuburkan lagi hiburan dari dalam diri, yakni iman, dengan syarat ia mematuhi syariat. Alunan ayat suci al-Quran, nasyid yang mengagungkan Allah, shalawat yang memuji nabi, puisi yang menghaluskan rasa kehambaan kepada Allah, pasti akan semakin menyuburkan iman, sumber hiburan utama di dalam hati orang yang beriman.

Inilah garis pemisah antara hiburan sejati yang dinikmati oleh orang beriman dengan hiburan palsu yang melalaikan orang yang tidak beriman. Inilah hakikat yang masih belum tersurat di mata masyarakat. Masih banyak yang menganggap, jika Islam diterapkan, maka kehidupan akan berubah menjadi suram dan murung. Tidak ada keceriaannya karena mereka beranggapan bahwa Islam menolak hiburan. Tetapi kini, hal itu sudah terjawab bahwa Allah swt telah menyediakan satu hiburan sejati kepada para hamba-Nya.Hiburan yang dapat dirasakan di dunia lagi sebelum hamba-Nya menikmati hiburan yang hakiki di akhirat.

Ikut Islam Apa Sih?



Pertanyaan itu sudah bosan kudengar dan kujawab. Pertama kali kudengar dari seorang penjaga sekolah yang begitu perhatian denganku. Sejak kelas 1 SMA, aku mendapat tambahan pelajaran agama Islam secara intens dan privat. Namun setahun pertama pelajaran itu kuabaikan saja dan aku tak merubah diri sebagaimana yang "mereka" harapkan. Prestasiku di kelas 1 juga tak begitu menonjol. Tetap saja ada kemalasan yang menyergap tiap kali jam belajar mulai.Itulah yang membuat namaku terkenal, bukan terkenal karna kebaikanku tapi terkenal karna kemalasanku.

Lelah dengan apa yang kulakukan selama itu, akhirnya aku coba beberapa resep yang diberikan kakak kelas yang setiap kali bicara tentang Islam didepan mataku dan 7 orang temanku yang lain. Alhamdulillah, ternyata berhasil. Ini pertolongan Allah. Ya, kuyakinkan diri kalau yang kulakukan untuk bangkit dari kemalasan adalah pertolongan Allah. Aku hanya berusaha, sebagaimana kak Budi sering katakan...

Sejak itu, kutata kembali seluruh perangkat hidupku. Kucoba sedemikian rupa agar nampak indah susunannya, sehingga orang akan mudah menerimaku jika minta dibimbing. Mulai dari pakaian, gaya bicara dan perangai yang buruk kuusahakan masuk ke tong arsip.

Pak Udin -nama penjaga sekolah- merasa keanehan dengan perubahanku yang sebenernya dia terima, tapi beliau tetap sangsi "Paling juga lu cuma tobat sambel...". Aku tak tersinggung dengan beliau yang memang kesehariannya akrab ngocol denganku sambil jaga parkir. "Gara-gara Ari ikutan rohis tuh, gue jadi ga ada temen..." kesalnya beberapa kali ditumpahkan ke penjaga sekolah lainnya.

Aku memang paling senang bergaul dengan semua golongan, tua-muda, kerja-pengangguran, sekolah-kuliah, tukang ini-tukang itu. Banyak pelajaran yang diambil dari mereka. Walaupun pada awalnya cuma iseng saja, namun witing tresno jalaran soko kulino.Minimal buat nasihat diri kalo sedang down.

1-2 Tahun kemudian...
Semua pelajaran kusuka. Prestasi kuraih, Alhamdulillah. Beasiswa juga setiap semester dapat. Pak Muslik, guru Matematika yang saat kelas 1 sering memarahiku kini jadi temen akrab, sering share, bahkan beliau curhat masalah anaknya yang ikut suatu organisasi Islam. Tahun itu memang belum begitu terkenal istilah teroris. Namun perasaan curiga ada saja. Islam inilah-islam itulah.

"Ri, lu ikutan islam apa sih?" tanya Pak Udin tampak serius kali ini. "Hmm... bapak nih nanya macem-macem aja. Saya islam biasa" jawabku. "Ooo.. N.U?" aku geleng. "Muhammadiyah?" aku juga geleng. "Persis?" aku geleng lagi. Sekarang ganti aku yang bicara "Pak, bapak islam apa?"
Pak Udin dengan ringan menjawab "saya mah islam KTP, kan lo tau kalo solat saya cuma solat Jum'at hehe..". Kebanyakan saudara seiman kita memang sering menganggap enteng perkataan yang diluapkan, termasuk aku mungkin secara tidak sengaja. Tapi semua akan diampuni atas kehendak Allah.
"Pak Udin yang soleh, Islam itu cuma satu ya Islam yang syahadat, Islam yang Sholat, Islam yang Puasa, Islam yang Zakat, Islam yang Haji bagi orang mampu. Saya juga baru ngerti Islam sekarang-sekarang ini, jauh sebelum bapak, mungkin pengalaman saya lebih sedikit dibanding bapak. Tapi, bicara masalah Islam itu bukan bicara masalah pengalaman atau umur. Bapak tau Qur'an kan? Disana dijelaskan panjang lebar, bagaimana seharusnya kita membayar jasa Allah atas penciptaan kita, walaupun Dia gak akan miskin kalau kita gak menyembahnya. bapak juga tau Sunnah Rasul kan? Disitu juga dijelasin a sampe z tata cara muamalah, bermasyarakat, berpolitik tapi yang gak menyimpang dari Islam. NU, Muhammadiyah, Persis, itu kan hanya kepanjangan tangan dari ilmu fiqh yang mereka anut. Itu semua cuma organisasi loh. Jauh sebelum NU, Muhammadiyah dan Persis atau lainnya sudah ada Islam yang bener-bener Islam, bersatu dalam satu barisan. Sampai orang kafir takut memeranginya karena begitu tangguhnya rasa ukhuwah, persaudaraan antar mereka, padahal sepele pak, cuma gara-gara kawannya kehilangan botol airnya yang nyemplung di sungai. Semua langsung nyari..."

Pak Udin nampak serius mendengarkannya, tak biasanya beliau begitu perhatian terhadap pembicaraan orang. Biasanya, walaupun yang bicara guru, beliau akan memotongnya. Alhamdulillah, rupanya beliau sedang diberikan hidayah mendengar...

"Nah, masalahnya, sekarang ini kepentingan kelompok lebih utama dari kepentingan Islam itu sendiri. Okelah Islam ada 200 organisasi di Indonesia, tapi kalau saja dominasi kepentingan golongan dinomer sekian, mungkin kita gak kocar-kacir gini kalo sedang dilanda konflik. Orang juga kan menganggap aneh bangsa kita yang termasuk penganuh Islam terbanyak, kenapa bangsa kita masuk ke rangking 3 negara terkorup?? Akhirnya apa, yang non-muslim beranggapan "tuh liat, islam tuh, korupsi juga!!". Siapa yang disalahin, ustadz kan? kan ustadz yang sering ceramah, diatas panggung, mimbar, seminar. Itu juga salah, kewajiban menyampaikan Islam tuh bukan cuma tugas ustadz Pak. Menyampaikan ajaran Islam itu udah kewajiban kita semua, terserah cara menyampaikannya gimana, bisa dengan omongan, bisa juga dengan tingkah laku atau bisa juga dengan prestasi. Bapak menjadi penjaga sekolah, trus ikhlas menjalaninya, rajin sholat, bisa ngaji, murah senyum, ramah (bukan rajin menjamah lho!! hehe) itu dah bisa disebut da'wah. Gampang kan?? Nah, sekarang bapak Islam apa?.."

Pak Udin hanya menjawab "Ya Islam yang seperti lu bilang tadi hehe..." sambil merangkul pundak seakan kami sepasang sahabat yang berbeda usia.

Karena penjelasan itulah, orang akan menjadi faham, bahwa Islam is Islam. yang menjadi kelemahan kita (termasuk aku) adalah rasa malas menyampaikan, terlalu tidak PD (padahal belum dicoba), terlalu memperhitungkan resiko diacuhkan atau lain-lain. Lebih mudah Nahyi munkar dibanding Amar ma'ruf, pengakuan kebanyakan da'i Indonesia.

Lalu, Anda islam apa? Sah-sah saja anda aktif di organisasi islam (harokah) untuk lebih memaksimalkan perjuangan Anda. tapi jangan lupa, Islam lebih awal lahir daripada harokah yang anda loyalkan, jadi utamakan yang lebih tua (baca : Islam) daripada harokah.

* Tulisan ini adalah nasihat untuk diri pribadi dan seluruh temans yang masih bingung dengan atas keberpihakan saya terhadap harokah Islamiyah. Bingkisan khusus buat seorang aktivis salah satu harokah di Makassar.

Ikhwan sejati Adalah ......................